Rindu yang Mengadu
Resah ini terperangkap dalam kalbu,
Menitik beratkan rindu yang kian lama kian menggebu.Haruskah kutahan emosi merinduku? Atau kuluapkan amarah adanya ingin bertemu.
Jantungku semakin berdetak sering kerasnya arlojiku, ia benar-benar melekat dinadi dan urat syarafku. Aku kejang karena itu, dengan rindu yang amat sangat menyiksaku.
Kacau sudah nalar tempat mengaduku, kini dia tunduk dengan nafsu inginya temu.
Gelora ini sungguh memperbudak seluruh anggota badanku, membabi buta kepingan asmara yang semakin melumpuh karena itu.
Ingin sekali rasanya hatiku kau sentuh, dengan satu kecap saja, tolong aku memaksa.
Aku terima konsekuensi itu, rindu yang semakin membuat kejer urat nadi dan sanubariku. Namun, aku tak tahan dengan adanya rindu yang tak pernah menemu titik temu.
Kukatakan egois merindu, satu kali bertemu tak sirna rasa itu, dua kali temu semakin kolot merindu, tiga kali, empat kali, atau bahkan seribu kali, tak pernah tuntas melepas dahaga rindu.
Kamu tahu artinya itu?
Aku sangat menginginkanmu.
Komentar
Posting Komentar