Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2022

Rindu yang Mengadu

Resah ini terperangkap dalam kalbu, Menitik beratkan rindu yang kian lama kian menggebu. Haruskah kutahan emosi merinduku? Atau kuluapkan amarah adanya ingin bertemu. Jantungku semakin berdetak sering kerasnya arlojiku, ia benar-benar melekat dinadi dan urat syarafku. Aku kejang karena itu, dengan rindu yang amat sangat menyiksaku. Kacau sudah nalar tempat mengaduku, kini dia tunduk dengan nafsu inginya temu. Gelora ini sungguh memperbudak seluruh anggota badanku, membabi buta kepingan asmara yang semakin melumpuh karena itu. Ingin sekali rasanya hatiku kau sentuh, dengan satu kecap saja, tolong aku memaksa. Aku terima konsekuensi itu, rindu yang semakin membuat kejer urat nadi dan sanubariku. Namun, aku tak tahan dengan adanya rindu yang tak pernah menemu titik temu. Kukatakan egois merindu, satu kali bertemu tak sirna rasa itu, dua kali temu semakin kolot merindu, tiga kali, empat kali, atau bahkan seribu kali, tak pernah tuntas melepas dahaga rindu. Kamu tahu artinya ...

Mentari dan Pintu

Kalaku sambut mentari yang kian lama kian meninggi, saat itu pula kehangatan mulai membelai badan. Kutegak menikmati kehangatan itu, sambil tersenyum menengadah kearah langit yang kian membiru. Beberapa waktu tubuhku masih sanggup dengan kehangatan yang mulai memudar, terganti panas yang semakin lama menyengat. Kepalaku masih saja menengadah kearah langit, tetapi tak terlihat senyum kembali menyengit. Nampak mentari tak lagi diufuk timur kini dia telah menempati tempat baru. Tepat diatas kepala. Mataku tak mampu menatapnya, tubuhku terasa terbakar tepat dibawahnya. Tak terasa aliran keringat mulai bercucuran membasahi tubuhku sebab panas itu. Aku masih bertahan, walau aku sangat kepanasan. Kini kepalaku tidak lagi menengadah, sedikit kutundukan kepalaku, mencari sedikit kesejukan pilu. Alisku mengkeriut, tanda ketidak berdayaanku. Sedikit ku dengakan kepalaku, mentari tak lagi tepat diatas kepalaku. Agak sedikit redup, membuatku tak terlalu kepanasan, aku sedikit sejuk waktu itu. Namun...

Unik, Ini Indonesiaku

 Negara Indonesia adalah negara unik yang terdiri dari berbagai macam perbedaan. Perbedaan yang terbentuk dalam suatu wadah persatuan dengan bentuk Republik. Kesatuan yang tidak akan pernah renggang genggam erat talinya dibawah cakar garuda, yang memprioritaskan toleran beragama dengan simbol bintang besar juga pemimpin adil dengan acuan kepala banteng yang terkalung dalam dada garuda, ditambah pohon beringin dan rantai paddi serta kapas yang membentuk simbiosis mutualisme bagi para penduduknya. Indonesia adalah milik kita, tanah tumpah darah kita. Sudah sepatutnya kita sebagai warga negara yang baik merawatnya dengan penuh cinta, karena dengan cintalah NKRI akan tumbuh menjadi suatu negara yang hangat dan damai. Sekarang begini, sikap toleransi akan tumbuh karena cinta, menjadi hal yang sulit apabila kita membenci sesuatu tetapi harus diapaksa untuk menerima. Maka dari itu setiap warga negara harus menumbuhkan rasa cintanya terhadap keadaan bangsa. Mengenai Indonesia, siapa ya...

Abah Bukan Sepeti Abah-abah Lainya

 Beliau bukan hanya seorang guru dengan sapaan Abah, begitu kami memanggilnya. Lebih dari itu, Abah Nasih adalah sosok bapak yang benar-benar memikirkan masa depan anak-anak ideologisnya. Saat ini, anak-anak ideologisnya telah mencapai ratusan dari sejak awal Abah mendirikan sebuah rumah pengkaderan yang beliau namakan dengan Monash Institute. Monash atau singkatan dari nama Abah sendiri Mohammad Nasih. Abah bukanlah tipe kebanyakan dari banyaknya abah-abah yang menjadi pengasuh pondok pesantren. Sosok yang sangat berbeda dari seorang Kiyai pada umumnya. Abah Nasih adalah Kiyai dengan prioritas tidak hanya menekankan ilmu akhirat, tetapi ilmu dunia sebagai bagian dari perjuangan menuju bekal ke akhirat. Setiap hari kami para disciples diwejangi dengan wawasan politik dan pengetahuan teknologi terbaharu serta arahan untuk menjadi seorang pengusaha yang nanti hartanya akan dijalankan untuk kepentingan berjuang di jalan Allah. Metode pengajaran yang luar biasa, Pengasuh Pondok Pes...

Lucunya Awal Ramadhan di Negeri ini

 Hiruk Piruk Awal Ramadhan Perbedaan organisasi masyarakat islam di Indonesia seperti telah istiqamah terhadap perbedaan penentuan tanggal awal bulan Ramadhan. Lagi dan lagi perbedaan itu sedikit banyaknya menjadi persoalan polemik ditengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat islam sendiri. Hal ini disebabkan cara penentuan tanggal yang berbeda dan pengakuan dari pimpinan pusat ormas Muhammadiyah yang mengaku bahwa Muhammadiyah tidak diundang dalam sidang isbat oleh kementrian agama (kemenag) karena telah bersurat dengan ahli falak perwakilan ormas tersebut. Kedua ormas terbesar islam yaitu NU dan Muhammadiyah memang memiliki cara sendiri menentukan tanggal satu bulan Ramadhan. Jika Nahdlatul Ulama menempuh cara rukyat (melihat bulan) maka Muhammadiya mengambil jalan dengan metode hisab (perhitungan).  “Jika pun ada beda awal Ramadan, sudah semestinya kita mengedepankan sikap saling menghormati agar tidak mengurangi kekhusyu’an dalam menjalani ibadah puasa,” Ucap Adib. Bena...

Sekat dan sesak

 Sekat ini memaksaku berhenti mengadu, Dengan tepian ragu yang selalu saja merangu, Inginku abai dalam rintihan sendu, Menengadahkan bisu agar tak menjadi pilu. Duka ini menimpaku dalam diam, Mengantar dusta yang kian membelenggu, Mengantar langkah kian lama semakin melaju, Tentu dengan membawa lara pilu. Tuhanku.. Aku mengiba dalam belenggu keraguanku, Dengan tekanan dahsyat terpupuk dikalbuku, Dengan sayatan duka terpaku didalam diriku. Sungguh, ketiadaberdayanku akan takdirmu, Taku kuasa dengan perih yang kau kirimkan kepadaku, melemah atas qadrat iradatmu.

Menengok Sejarah

 Perihal sumpah pemuda, suatu tonggak utama sejarah perjuangan utama kemerdekaan Indonesia. Titisan darah pemuda mencucuri tanah nusantara, perdebatan terjadi dimana-mana, patri keegoisan tertanam dimana saja, perbedaan semakin terpecah belah, sangat disayangkan dalam luka perih atas bejatnya tatanan radikalisme para penjajah belum bisa menyadarkan pemuda yang kala itu masih bersifat kedaerahan. Padahal, satu-satunya jalan tempuh yang paling ampuh dalam menghadapi para penjajah adalah dengan cara menyatukan perbedaan peradaban, menyatukan idealisme atau tujuan Nusantara merdeka, menghilangkan keangkuhan dan rasa paling berjasa atas tumpahan keringat yang mereka cucurkan. Namun kenyataanya tidak, jauh sebelum kesadaran itu tumbuh, para pemuda telah melewati lembah hitam dalam lingkup negaranya sendiri, kemauan untuk bersatu hanya setipis benang, meraka tetap saja menganggap daerahnya adalah tempat yang paling utama dimana dirinya harus mempertaruhkan jiwa raga dengan tidak mengata...

Singkat, Ini Kodrat Perempuan!

 Nilai adalah sesuatu yang berharga. Begitupun wanita dia itu bernilai maka dia makhluk yang berharga. Maka dari itu, setiap wanita harus mampu menjadi wanita yang berkualitas salah satu caranya adalah mendapat hak pendidikan selayaknya pria. Memang ada ya bedanya antara wanita yang berpendidikan dengan wanita yang tidak berpendidikan? Toh wanita itu ujung-ujung kasur, sumur, dapur. Jelas teman-teman. Sisi yang paling kompleks dapat dilihat dari bagaimana sikap seorang wanita menghadapi suatu permasalahan atau persoalan, mengurus rumah tangga, mendidik anak-anak, dan lain sebagainya. Ingat ya teman-teman, anak yang lahir dari seorang rahim wanita memang tidak bisa memilih dari sosok ibu mana yang melahirkanya, tapi sebagai wanita harus benar-benar menyiapkan diri agar anak yang lahir terlahir dari rahim seorang ibu yang berkualitas. Terlahir sebagai wanita adalah anugerah yang wajib kita syukuri. Dan wanita sebagai makhluk berhati lembut jangan mau kalah dengan lelaki. Ini buk...

Naluri Membentuk Kesadaran

 Tentang Naluri. Mengutip dari catatan Wikipedia, naluri atau insting adalah suatu pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari tetapi telah ada sejak kelahiran suatu makhluk hidup dan diperoleh secara turun-temurun. Manusia dan nalurinya sudah seperti raga dan nyawa, apa bila salah satunya tidak ada maka akan mati manusia itu. Begitupun dengan naluri, bukan manusia jika nalurinya telah mati. Hal ini dikarenakan naluri menjadi aspek yang memang harus benar-benar ditumbuhkan dalam diri setiap individu. Jika pola pikir tidak diwujudkan dengan baik, manusia sebagai makhluk sosial tidak akan mampu merasakaan kepekaan sosial, lingkungan, rasa, dan bahasa dengan baik. Seakan-akan apa yang dilakukanya adalah benar menurut pendapat dan tingkah lakunya. Hal ini tentu akan bertentangan dengan manusia dan makhluk lainya. Mengapa? Bukan tidak mungkin, jika ada manusia tidak bisa menggunakan naluri sebagaimana semestinya, maka dia tidak akan me...

Muharram, Bulan Pertama Hijriah

Hayo ngaku, orang muslim mana yang masih bingung mengenai nama-nama bulan hijriyah? Bulan pertama dalam kalender islam itu apa si? Masih adakah yang bertanya seperti itu? Yuk, mari kita lebih kenal dengan agama islam kita, salah satunya adalah mengenal bulan Muharam atau bulan pertama dalam hitungan hijariyah. Perhitungan bulan hijriah berbeda dengan bulan masehi, jika bulan masehi dihitung sebab rotasi matahari maka bulan hijriah terhitung sebab rotasi bulan. Perlu diketahui ya teman-teman, bulan hijriyah terhitung sejak Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah asal namanya adalah Yastrib. Namun, penetapan kalendernya baru diresmikan setelah Rasulullah wafat, yakni pada masa khalifah umar bin khattab pada tahun 17 H. Awalnya, Umar bin Khattab menerima surat dari Abu Musa Al-Asy'ari, beliau termasuk salah satu kategori sahabat Rasulullah. Didalam surat tersebut tidak tertulis jelas awal dan kapan pengirimanya. Pada saat itulah Umar merasa kesulitan ketika akan mela...

Puisi: Tuhan

 Dalam sirath Illahi aku berdiri, diatas duka dan depaan nestapa yang harus aku lalui. kutatap panjang jalan yang penuh duri, begitu keras dan mencucurkan segala emosi. Qalb itu menjerit menyuarakan pilu, dalam kebimbangan haru dan ragu, antara galap dan abu-abu aku harus menentukan itu. sungguh. aku tak berkuasa atas dzon yang tak pernah bertemu temu atas ego yang selalu saja menggebu-gebu atas rintih yang selalu menderu, tapi, semua tak tahu aku selemah itu. Tuhan.. izinkan aku membuka tabirmu, dengan tanpa mengurangi kehinaanku atas kehadiratmu, Izinkan aku melampai fiber kehambaanku sungguh, hanyah Dzat dan kuasa-Mu Yang Maha Tahu atas segala keluh kesahku.

Puisi: Rindu Menggebu

 _*Oleh: Raudatunnisa*_ Dalam engkapan gundah maha pilu, Aku bersembunyi Dalam luka maha pedih, aku bertahan Alibimu mengguncah hati yang kian mati, Menjajikan langit yang setia saja menemani. Namun, yang hadir hanyalah senja, Indah namun sesaat. *Selengkapnya:* https://baladena.id/rindu-yang-menggebu/