Abah Bukan Sepeti Abah-abah Lainya

 Beliau bukan hanya seorang guru dengan sapaan Abah, begitu kami memanggilnya. Lebih dari itu, Abah Nasih adalah sosok bapak yang benar-benar memikirkan masa depan anak-anak ideologisnya. Saat ini, anak-anak ideologisnya telah mencapai ratusan dari sejak awal Abah mendirikan sebuah rumah pengkaderan yang beliau namakan dengan Monash Institute. Monash atau singkatan dari nama Abah sendiri Mohammad Nasih.


Abah bukanlah tipe kebanyakan dari banyaknya abah-abah yang menjadi pengasuh pondok pesantren. Sosok yang sangat berbeda dari seorang Kiyai pada umumnya. Abah Nasih adalah Kiyai dengan prioritas tidak hanya menekankan ilmu akhirat, tetapi ilmu dunia sebagai bagian dari perjuangan menuju bekal ke akhirat. Setiap hari kami para disciples diwejangi dengan wawasan politik dan pengetahuan teknologi terbaharu serta arahan untuk menjadi seorang pengusaha yang nanti hartanya akan dijalankan untuk kepentingan berjuang di jalan Allah.

Metode pengajaran yang luar biasa, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Furqon ini (Abah Nasih) adalah contoh panutan yang tidak hanya mengandalkan kepiawaian beretrorikanya mempengaruhi disciples untuk selalu semangat dalam mengkaji disiplin ilmu yang sudah ada, tetapi juga riset berdasarkan fakta yang terjadi pada umunya. Ketika di Planet Nufo sendiri, Abah tidak hanya duduk memegang microphone dan membuka kitab kuning, tetapi ikut terjun dalam melakukan riset-riset alam terhadap lingkungan, tanaman, dan hewan sehingga tercipta suasana keakraban antara seorang kiyai dan santri. Abah tidak suka dihormati secara berlebihan seperti Kiyai pada umumnya, kami para santrinya tidak harus berjalan ngesot untuk menemui Abah, tidak harus menunduk jika bertemu Abah, dan tindakan penghormatan lain yang biasa dilakukan santri kepada Kiyainya. Menurut Abah, itu adalah sesutu yang feodal dan lebih baik ditinggalkan.

Pemikiran Abah pasti adalah sesuatu yang berdasarkan Al-qur'an dan hadits sehingga tidak dapat diragukan lagi kekuatan kebenaranya, juga diselingi pemikiran yang sangat rasionalis dan teoritis menambah identitas yang lekat seorang Abah Nasih. Cara berfikir yang kritis, apalagi perihal keadaan kesehatan sebuah bangsa, tentu waktu 24 jampun beliau betah dan sanggup membahasnya. Karena memang latar belakang Abah sendiri adalah seorang politisi dan dosen ilmu politik di Universitas Indonesia, kampus yang menjadi saksi adanya seorang penghafal al-qur'an yang menyelesaikan studi S2 dan S3 nya bernama Mohammad Nasih yang kini menjadi bagian dari seseorang yang menyumbangkan ilmu pengetahuanya diperguaruan tinggi ternama tersebut.

Bisa dipastikan fatwa-fatwa yang keluar dari pembahasanya yang indah adalah suatu hal yang baru yang belum pernah narasumber lain bawakan. Abah Nasih suka dengan hal-hal baru yang dapat menyongsong masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya dari sebuah kata saja yang menyangkut bangsa, beliau dapat merangkai menjadi suatu materi yang panjang pembahasanya dan mampu untuk dicerna oleh pemikiran-pemikiran sederhana. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PerkembanganTeknologi dari Awal Ditemukan Hingga Masa Perkembangan Kelanjutanya

Menengok Sejarah

Unik, Ini Indonesiaku