Mentari dan Pintu
Kalaku sambut mentari yang kian lama kian meninggi, saat itu pula kehangatan mulai membelai badan. Kutegak menikmati kehangatan itu, sambil tersenyum menengadah kearah langit yang kian membiru. Beberapa waktu tubuhku masih sanggup dengan kehangatan yang mulai memudar, terganti panas yang semakin lama menyengat. Kepalaku masih saja menengadah kearah langit, tetapi tak terlihat senyum kembali menyengit. Nampak mentari tak lagi diufuk timur kini dia telah menempati tempat baru. Tepat diatas kepala. Mataku tak mampu menatapnya, tubuhku terasa terbakar tepat dibawahnya. Tak terasa aliran keringat mulai bercucuran membasahi tubuhku sebab panas itu. Aku masih bertahan, walau aku sangat kepanasan. Kini kepalaku tidak lagi menengadah, sedikit kutundukan kepalaku, mencari sedikit kesejukan pilu. Alisku mengkeriut, tanda ketidak berdayaanku. Sedikit ku dengakan kepalaku, mentari tak lagi tepat diatas kepalaku. Agak sedikit redup, membuatku tak terlalu kepanasan, aku sedikit sejuk waktu itu. Namun aku enggan lagi menengadahkan wajahku untuk matahari hari itu, panasnya membuat kesakitan yang begitu menyengat. Masih berjalan mentari itu hingga pukul empat belas lebih satu, mentari itu mulai menyemburatkan pesona keindahanya kepadaku. Aku tertegun melihat disekelilingku ada mega merah yang menghiasai langit biruku. Selang waktu, mega itu menghilang dan aku kembali dikecewakan. "Sudahlah waktunya menutup pintu"hm
Komentar
Posting Komentar